HARIANSUMBAR, Pesisir Selatan— Tim I Safari Ramadhan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pesisir Selatan (Pessel) mengunjungi Masjid Thoiyibah di Nagari Sungai Sariak Lumpo, Kecamatan IV Jurai, Kamis (5/3/2026), dengan dipimpin langsung oleh Bupati Pessel, Hendrajoni.
Kegiatan itu turut didampingi Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Syahrizal Antoni, Kepala Inspektorat Daerah, Evafauza Yuliasman, Kepala Bapedalitbang Subchandri, Kepala Dinas Kominfo Wendi, serta sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya.
Kedatangan rombongan Safari Ramadhan tersebut disambut Camat IV Jurai, Ferro Yuandha Putri, Wali Nagari Sungai Sariak Lumpo Edi Amanto, Ketua Pengurus Masjid Thoiyibah Syahrial, ninik mamak, bundo kanduang, tokoh masyarakat, serta jamaah masjid setempat.
Wali Nagari Sungai Sariak Lumpo, Edi Amanto, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada Bupati Pesisir Selatan beserta rombongan yang telah menjadikan Masjid Thoiyibah sebagai salah satu tujuan Safari Ramadhan tahun ini.
“Kami atas nama pemerintah nagari dan masyarakat Sungai Sariak Lumpo mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bupati bersama rombongan yang telah berkenan hadir di masjid ini dalam rangka Safari Ramadhan. Kehadiran ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi masyarakat kami,” kata Edi Amanto.
Ia menjelaskan bahwa Nagari Sungai Sariak Lumpo memiliki tiga masjid yang menjadi pusat kegiatan ibadah dan sosial masyarakat dengan jumlah penduduk sekitar 203 kepala keluarga.
Menurutnya, keberadaan masjid di nagari tersebut tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan pendidikan agama, pembinaan generasi muda, serta penguatan nilai-nilai sosial kemasyarakatan.
Dalam kesempatan itu Edi Amanto juga menyampaikan aspirasi masyarakat terkait pembangunan jembatan gantung yang menghubungkan Nagari Sungai Sariak Lumpo dengan Nagari Bukit Kaciak.
Ia menjelaskan bahwa akses tersebut sangat dibutuhkan masyarakat untuk memperlancar mobilitas, terutama dalam mendukung aktivitas ekonomi yang berbasis pada sektor pertanian dan perkebunan.
“Kami berharap pembangunan jembatan gantung ini bisa terealisasi pada tahun 2026 guna menunjang kelancaran ekonomi masyarakat berdasarkan potensi pertanian dan perkebunan yang dimiliki,” ujarnya.
Selain itu ia juga menyampaikan kondisi Masjid Thoiyibah yang berada sangat dekat dengan aliran sungai, dengan jarak sekitar tujuh meter dari tebing sungai.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup mengkhawatirkan karena berpotensi mengancam keselamatan bangunan masjid jika terjadi erosi atau peningkatan debit air sungai.
“Karena posisi masjid berada di tepi sungai, kami berharap pemerintah daerah dapat membantu pembangunan pengamanan tebing sehingga bangunan masjid ini tetap aman dan dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang,” katanya.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Bupati Pessel, Hendrajoni menyampaikan bahwa pemerintah daerah saat ini menghadapi tantangan efisiensi anggaran sehingga harus lebih kreatif dalam mencari sumber pendanaan pembangunan.
Ia menjelaskan bahwa salah satu langkah yang dilakukan adalah memperjuangkan tambahan anggaran ke pemerintah pusat agar pembangunan di daerah tetap berjalan.
“Karena adanya efisiensi anggaran, maka kami harus lebih banyak berjuang ke pemerintah pusat untuk mendapatkan dukungan anggaran pembangunan bagi daerah,” ujar Hendrajoni.
Dalam kesempatan itu Hendrajoni juga menyampaikan rencana pengkajian pemekaran wilayah di Kecamatan IV Jurai, khususnya di Kenagarian Lumpo.
Menurutnya, wilayah Kenagarian Lumpo yang memiliki sebelas nagari dinilai sudah cukup luas dan berpotensi untuk dimekarkan guna meningkatkan efektivitas pelayanan pemerintahan kepada masyarakat.
Ia menilai bahwa pemekaran wilayah dapat memperpendek rentang kendali pemerintahan sehingga pelayanan publik menjadi lebih cepat, efektif, dan merata.
“Saya minta kepada Kepala Bapedalitbang agar segera melakukan kajian serta menyusun usulan terkait rencana pemekaran ini,” tegasnya.
Terkait usulan pembangunan jembatan gantung yang menghubungkan dua nagari tersebut, Hendrajoni memastikan bahwa pembangunan itu akan segera direalisasikan.
Menurutnya, kebutuhan anggaran pembangunan jembatan tersebut relatif kecil sehingga dapat dipenuhi melalui penggeseran anggaran.
“Terkait dengan usulan pembangunan jembatan gantung ini akan kita realisasikan dalam tahun ini. Karena hanya membutuhkan anggaran sekitar Rp200 juta, saya minta agar dilakukan melalui penggeseran anggaran dan segera dikerjakan,” tegasnya.
Selain itu pemerintah daerah juga akan melakukan normalisasi Batang Lumpo guna mengantisipasi banjir dan kerusakan lingkungan di sekitar aliran sungai.
Hendrajoni menjelaskan bahwa untuk kegiatan tersebut telah tersedia anggaran sebesar Rp2,7 miliar yang akan digunakan untuk memperbaiki alur sungai serta meningkatkan kapasitas aliran air.
Ia juga meminta masyarakat untuk terus berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait dalam mengusulkan berbagai program pembangunan.
Menurutnya, setiap usulan pembangunan seperti perbaikan saluran air, pengendalian banjir, maupun pembangunan irigasi pertanian harus disampaikan melalui proposal agar dapat dimasukkan dalam prioritas pembangunan daerah.
“Kalau ada usulan pembangunan, silakan disampaikan melalui proposal kepada perangkat daerah terkait agar bisa kita masukkan dalam program prioritas,” ujarnya.
Hendrajoni juga menjelaskan bahwa pada tahun 2026 pemerintah daerah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp53 miliar melalui APBD untuk menunjang pembangunan di berbagai sektor di Kecamatan IV Jurai.
Anggaran tersebut akan difokuskan pada pembangunan infrastruktur, peningkatan pelayanan publik, serta pengembangan potensi ekonomi masyarakat.
Dalam kesempatan itu ia juga meminta Kepala Bapedalitbang untuk menyiapkan usulan pembangunan ruas jalan menuju Gunung Talau di Nagari Balai Sanayan Lumpo.
Menurutnya, pembukaan akses jalan tersebut penting untuk mendukung pengembangan olahraga paralayang yang dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung sektor pariwisata di Pesisir Selatan.
Pada kegiatan Safari Ramadhan tersebut, Pemkab Pesisir Selatan juga menyerahkan bantuan untuk Masjid Thoiyibah dan masyarakat setempat.
Bantuan tersebut berasal dari Pemkab Pessel sebesar Rp25 juta, bantuan pribadi Bupati Hendrajoni Rp5 juta, Baznas Rp3 juta, Bank Nagari Rp2,5 juta, serta dukungan dari perangkat daerah sebesar Rp6,8 juta sehingga total bantuan mencapai Rp42,3 juta.
Selanjutnya, dalam tausiyahnya, Ustadz Dodon Hardiman menyampaikan ceramah bertema “Nagari Mengaji” yang menekankan pentingnya menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa perintah membaca Al Qur’an telah dimulai sejak turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira.
Menurutnya, ketika Rasulullah SAW menerima wahyu pertama berupa perintah “Iqra” atau membaca, beliau merasakan kegelisahan dan tubuhnya menggigil.
Setelah peristiwa itu Rasulullah SAW pulang menemui istrinya Khadijah dan meminta untuk diselimuti sebelum akhirnya dibawa menemui Waraqah bin Naufal untuk mendapatkan penjelasan mengenai wahyu yang diterimanya.
“Peristiwa itu menunjukkan bahwa membaca dan mempelajari Al Qur’an merupakan perintah pertama yang diberikan Allah kepada umat manusia,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Al Qur’an merupakan sumber kehidupan yang harus dipelajari, dipahami, serta diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, program Nagari Mengaji yang dicanangkan oleh Bupati Pesisir Selatan merupakan langkah strategis untuk membangun masyarakat yang beriman dan berakhlak mulia.
Ustadz Dodon juga menjelaskan bahwa Al Qur’an disebut sebagai nur atau cahaya yang mampu menerangi kehidupan manusia.
Ia mengatakan bahwa jika ayat-ayat Al Qur’an dibaca di setiap rumah, maka nagari akan dipenuhi cahaya keberkahan.
Selain itu Al Qur’an juga berfungsi sebagai obat bagi manusia, baik untuk penyakit jasmani maupun penyakit rohani.
Menurutnya, banyak penyakit jasmani yang sebenarnya berawal dari penyakit rohani seperti stres, kecemasan, dan kegelisahan hati.
“Ketika hati manusia tenang karena dekat dengan Al Qur’an, maka kesehatan jasmani juga akan ikut terjaga,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Al Qur’an juga membawa keberkahan dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu ia mengajak masyarakat untuk menjadikan kegiatan membaca dan mempelajari Al Qur’an sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari.
“Jika Al Qur’an hidup di tengah masyarakat, maka insyaallah nagari ini akan dipenuhi keberkahan, kedamaian, dan kemajuan,” jelasnya.(*)
